Tugas Modul 2 : Pembelajaran yang Memerdekakan

Pesan : Melalui media puisi ini semoga bisa membuat rekan-rekan guru,

             orangtua, dan siswa memahami pentingnya Pendidikan untuk

             kelangsungan hidup anak didik dimasa yang akan datang, sesuai

             dengan bakat, minat dan potensi dirinya. Bakat, minat, dan potensi

             dirinya bersumber dari lingkungan dimana siswa tinggal.

Sasaran : Semua warga sekolah, orang tua siswa dan lembaga terkait.

Media : Karya sastra dalam bentuk puisi

Tempat Publikasi : Ditempelkan di papan pengumuman, disebarkan lewat media sosial, Facebook, Instagram, Grup Whatsapp.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Puisiku : KuPaku

SECERCAH CAHAYA MENANTI KITA

                                                               Buah Karya : Aan Herman Andawa

Ketika ragamu telah letih dan lelah

Ketika atmamu kalut dan penat

Ketika penglihatanmu mulai memudar

Ketika langkah kakimu mulai gontai

Asa dan perasaan berkecamuk

Tiada akhir !

Janganlah engkau risaukan hatimu

Masih ada mereka …

Masih ada kita …

Masih ada aku …

Yang tetap setia menemanimu

Kegalauan yang selama ini menghantui

Ketidakpastian yang selama ini menemani

Kini mulai terhempas sirna

Seiring dengan nyanyian alam maya

Merdu dan syahdu menyejukkan kalbu

Lewat goresan penaku

Yang kurangkai dikala angin malam berbisik lirih

Damaikanlah … tentramkanlah … kalbumu

Dari segala kejenuhan dan kepenatan

Dari semua fatamorgana yang menyelimuti relung hatimu

Dikala Sang Surya telah terlena dalam peraduannya

Dikala  burung malam bernyanyi riang

Tetaplah tegap melangkah dengan kedua kakimu

Nyalakan  semangat kebebasan pada segenap relung jiwamu

Kobarkanlah nyali di setiap jengkal  ragamu

Hiraukanlah semua beban yang datang menghampiri

Enyahkanlah segala rintangan yang mengharu biru

Hancurkanlah semua tantangan hitam dan kelabu

Bergerak, bergerak, bergerak menuju satu titik

Kebebasan …lahir dan bathin

Kodratmu disini di alam kita

Bukan disana di alam mereka

Bangkitlah dari keterpurukan

Bangunlah dari tidur panjangmu

Tersenyumlah …

Temukanlah jati dirimu

Di ufuk timur cahaya terang menantimu !

Tengoklah ke depan !

Disana terpampang jelas masa depanmu !

Keberhasilanmu, cita bagiku

Mantangai, 11 Agustus 2021

23.20 WIB.

 

 

Puisiku : KuPaku

SADARKU

                                                                             Karya : Aan Herman Andawa

Langit tampak mendung

Gemuruh suara petir menggelegar sambung menyambung

Disertai kilatan cahaya terang yang tampak bingung

Semua makhluk terdiam bingung

Dari kejauhan terdengar alunan suara adzan shubuh bersahut-sahutan menyayat kalbu yang sedang murung

Keindahan suasana pagi sirna bagaikan dalam tempurung

Namun kalbuku  berbunga sangat tak terbendung

Asaku terbang tinggi jauh melambung

 Jiwaku lirik berkata “Aku haru bisa tak usah murung”

Pikirku terasa bebas tidak lagi terkungkung

Gelora jiwaku meloncat setinggi gunung

Hari ini kuhaturkan syukur pada Yang Maha Agung

Karena aku disadarkan-Nya dari derita panjang yang murung

Dia membuat langkah kakiku tertatih dan terhuyung

Dia membuat hidupku terkungkung

Ibarat kertas hitam pekat terbawa arus mengapung

Kini kutersadar dari pola pikir yang terkurung

Kini tak lagi tampakkan dada membusung

Kini tak lagi alirkan ke-egoisan yang membuatmu bingung

Tak lagi kuikuti langkah –langkah yang membuatmu terkungkung

Tak lagi kuberteman dengan orang gemblung

Mereka membuatku terpuruk dan tersandung

Kini lepas ...

Merdeka …

Bebas…..

Sadarku  

 

 

 

 

 

Mantangai, 12 Agustus 2021

04.15 WIB.

 

Komentar